Berdiri Dengan Nama Raja Garuda Mas, Perusahaan Ini Merintis Sumber Energi Terbarukan


Asian Agri adalah anak perusahaan dari Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto yang mengelola minyak kelapa sawit dan terbesar di Asia dengan kapasitas produksi pertahunnya mencapai 1 juta ton. Selain itu, Asian Agri merupakan salah satu perusahaan swasta nasional terkemuka di Indonesia yang memproduksi minyak sawit mentah (CPO) sejak tahun 1979 dan mempekerjakan sekitar 25,000 orang saat ini. Sejak tahun 1987, Asian Agri telah menjadi perintis program Pemerintah Indonesia Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR - Trans). Hingga saat ini, tercatat Asian Agri telah mengelola 28 perkebunan minyak kelapa sawit dan 19 pabrik pengilangan minyak kelapa sawit. Perusahaan tersebut telah memiliki total area perkebunan kelapa sawit sebesar 160.000 hektar yang mana 60.000 hektar diantaranya dikembangkan oleh para petani kecil di bawah Plasma atau Skema KKPA. Dan Lebih dari 86% dari perkebunan Inti Asian Agri di Provinsi  Sumatera Utara, Riau & Jambi serta  perkebunan petani plasma di Provinsi Riau & Jambi telah bersertifikat RSPO.

Perusahaan ini berkomitmen untuk mendukung pengadaan energi terbarukan dan mendapatkan apresiasi Pemerintah Indonesia dalam acara penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017. Penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017 kategori Perusahaan terbanyak membangun PLTBg diberikan kepada Head of Mill and Engineering Asian Agri. Penghargaan ini juga menunjukan bahwa Asian Agri memiliki komitmen tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan mengimplementasikan teknologi yang dapat mengolah limbah sawit menjadi energi terbarukan biogas untuk membantu suplai listrik di wilayah sekitarnya.


Mereka mengembangkan teknologi ramah lingkungan yang bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, serta memberi nilai tambah bagi perusahaan dalam mendukung pemerintah menyediakan energi listrik bagi kawasan yang belum terjangkau.
Pada tahun 2015, mereka sudah membangun lima pabrik biogas untuk mereduksi gas rumah kaca. Pabrik sawit yang mengeluarkan limbah itu ditangkap oleh methan capture, dan diolah untuk menghasilkan listrik. Di antaranya, di Jambi baru ada satu pabrik biogas dan empat pabrik biogas lainnya ada di Riau dan Asahan masing masing dua unit. Untuk pabrik di Jambi merupakan pabrik biogas pertama yang beroperasi dari perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pada satu pabrik biogas dengan kapasitas 60 ton per jam bisa menghasilkan energi listrik sebesar 2 megawatt (MW), potensi listrik yang dihasilkan sebesar 2 MW tersebut mampu untuk menerangi 2.000 rumah. Kebutuhan listrik di pabrik sawit sendiri tak lebih dari 700 kilowatt sehingga masih ada sisa atau kelebihan listrik (excess power) sebesar 1,3 MW.

Kepedulian dan komitmen nyata dari perusahaan kelapa sawit di Indonesia terhadap keseimbangan lingkungan hidup serta Sustainable Development Goals (SDG) akan berkontribusi secara signifikan bagi upaya Pemerintah Indonesia mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim di dunia.

Dan begitulah sejarah sejak erdiri Dengan Nama Raja Garuda Mas, Perusahaan Ini Merintis Sumber Energi Terbarukan.